|
|
Muqadimah
Kawasan Malioboro sebagai ikon kota Yogyakarta merupakan kawasan potensial. Hal tersebut terbukti dengan banyaknya pusat industri (857 buah), perdagangan/ jasa (2865 buah) dan salah satu dari 2865 buah ada satu buah pasar terbesar yaitu pasar Beringharjo yang memiliki 9850 buah kios, perkoperasian (42 buah), pariwisata (227 lokasi) dan sosial seni budaya dan olah raga (73 lokasi). Dari lokasi tersebut kemudian menjadi karakter tersendiri bagi Malioboro yang heterogen dan dinamik.
Namun sayangnya, Maliboro yang mempunyai makna ?Oboring Walisingo? kehadiran misinya menjadi kabur setelah didalamnya disibukan dengan bergabagi aktivitas bisnis dan perbelanjaan serta banyak tempat pariwisata seperti perhotelan, museum dan bangunan-bangunan kuno/ keraton dan lain-lain. Dimana pengaruhnya baik secara langsung maupun tidak dengan hadirnya turis baik dari manca negara maupun domestik telah membuat jati diri dari penghuni kawasan ini identitas kepribadianya jauh dari nilai-nilai ajaran agama: peminum, pelacuran, perjudian dan Life Style (gaya hidup ) yang hedonis telah merobohmkan niliai-nilai spiritualitas mereka.
Sementara di sektor lain, pembangunan mental dan spiritual di kawasan ini masih minimal. Padahal kalau diukur dari sarana dan prasarana fisik tempat peribadatan kawasan ini termasuk religius dikarenakan banyak masjid (22 buah) dan gerja (6 buah). Namun kaena kesibukan mereka dalam aktivitas sosial eknomi, mereka cenderung mementingkan aspek material/ ekonomi dibandingkan spiritual. Dan seharusnya dua aspek tersebut harus berjalan secara sejajar, sehingga keberhasilan dan keselamatan dunai dan akhirat benar-benar terwujud.
Guna menjawab berbagai persoalan di kawasan ini, maka dipandang penting untuk menghadirkan Lembaga Bimbingan Agama Islam (LBAI) dan Lembaga Diklat (LBA) Daarun Najaah Yogyakarta, dengan maksud untuk ikut bersama-sama menjadikan kawasa ini sebagai kawasan yang mempunyai nilai keutamaan dan kemulyaan sebagai mana semangat nama jalan di sisi uatara dan selatan Malioboro yaitu jalan Margo Utama (sisi utara) dan Margo Mulyo (sisi selatan), yang mana sisi uatara menjadi nama jalan Mangkubumu dan sisi selatan menjadi jalan A.Yani. dengan tujuan yang mulia ini, maka Daarun Najaah berusaha mengembalikan semangat religiusitas keagamaan yang dilambangkan dengan Tugu Jogja (Alif) yang bermakna ?Ingat kepada yang satu? yaitu Allah SWT. Tanpa menfikan dari salah satu makna kesejajaran antara kepentigan duniawi maupun ukhrawi, namun kedua aspek tersebut berjalan seiring untuk memperoleh kebahagiaan hidup yang sukses abadi FIDDINI, WADDUNYA WAL AKHIRAH.
bravenet.com